Senin, 05 November 2018

Cara Menghitung dan Tarif BPHTB Terbaru


Seperti yang anda ketahui bahwa bphtb adalah salah satu syarat yang harus anda penuhi untuk bisa memiliki kepemilikan rumah secara sah. Dimana bphtb atau bea perolehan hak tanah dan bangunan ini menjadi salah satu syarat untuk bisa mengajukan kpr secara legal. Maka dari itu bagi anda yang baru dalam proses untuk melakukan kpr, memahami mengenai bpthb ini juga perlu dilakukan agar anda tidak mengalami kekecewaan di kemudian hari.
Pastinya anda setuju bahwa pada umumnya pasangan muda seperti Anda masih perlu belajar banyak dan mempersiapkan berbagai hal dengan matang untuk menghadapi kpr ini. Dimana kpr atau kredit pemilikan rumah tidak bisa dilakukan dengan sembarangan tanpa perhitungan yang tepat. Memang rumah merupakan kebutuhan yang tidak bisa dianggap sepele atau dianggap remeh. Akan tetapi melakukan pembelian rumah sebagai salah satu pemenuhan kebutuhan tanpa memperhatikan langkah yang tepat juga bukan merupakan langkah yang bijak.
Sama halnya seperti rencana rumah tangga anda, melakukan pembelian rumah untuk hunian bersama keluarga juga harus dilakukan dengan selektif dan ditata sejak saat ini. Baik anda berencana untuk melakukan pembelian rumah secara cash atau tunai maupun anda berencana untuk melakukan pembelian rumah secara kredit menggunakan kredit pemilihan rumah atau kpr. Dengan begitu anda tetap bisa memiliki rumah idaman anda tanpa harus khawatir dengan berbagai resiko yang ada.
Hanya saja memang bisa dikatakan, melakukan pembelian rumah secara tunai atau cash seolah menjadi angan-angan saja. Apalagi bagi anda yang sudah berkeluarga ataupun yang baru saja berkeluarga. Hal ini tentunya di dasar pada kebutuhan pokok anda yang tidak bisa ditinggalkan dan harus segera dipenuhi. Sementara harga properti yang terus saja naik dan berkejaran dengan gaji yang pas-pasan. Tentu saja akan menjadi berat bagi anda untuk melakukan pembelian secara tunai.
Maka dari itulah kpr ini menjadi sebuah solusi bagi anda. Hanya saja pastikan anda mengetahui dengan baik apa apa saja yang harus anda persiapkan sebelum anda melakukan pengajuan kpr ini. Tentunya dengan harapan agar anda bahagia di kemudian hari. Salah satu yang juga perlu anda cermati ialah mengenai bpth ini. Dimana bphtb adalah biaya atau sejumlah uang yang harus dibayarkan oleh setiap orang atau badan yang memiliki nilai lebih atas tambahan maupun perolehan hak bangunan dan tanah yang ia miliki. Tentunya peraturan ini ada dalam sebuah peraturan secara legal dalam undang-undang.
Dasar hukum dari bpthb ini adalah pada Undang-undang nomor 21 tahun 1997 pasal 1 yang kemudian diubah dalam UU no 20 tahun 2000. Bphtp sendiri sering kali dikenal dengan sebutan pajak pembeli. Padahal sebenarnya bphtp ini bukan dianggap sebagai pajak melainkan bphtb adalah bea. Tentunya hal ini karena bphtb memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan pajak seperti misalnya waktu pembayarannya yang dilakukan di awal, dan lain sebagainya.
Hanya saja sering kali orang hanya fokus pada uang muka atau down payment (DP) yang harus dibayarkan saja tanpa memperhatikan BPHTB ini. Dimana umumnya orang akan merasa aman dan telah selesai urusannya jika telah membayar uang muka untuk kpr. Padahal pengajuan kpr ini tidak hanya berkutat pada pembayaran dp dan cicilan saja. Akan tetapi juga ada biaya lain yaitu bphtb yang melekat pada pembelian rumah secara kredit yang anda lakukan.
Maka untuk menghindari hal yang tidak diinginkan terutama terkait dengan finansial keluarga, berikut ini akan dibagikan tips dan informasi mengenai apa saja yang harus anda perhatikan dalam mempersiapkan kpr dan juga perhitungan bphtb yang harus anda ketahui.

Untuk menghitung BPHTB pertama kali anda harus mengetahui terlebih dahulu NJOPTKP atau Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak nya

Dimana nilai dari NJOPTKP pada setiap wilayah ini berbeda-beda atau bervariasi bahkan bisa berubah-ubah setiap waktu. Misalnya saja di DKI Jakarta, nilai JNOPTKP di DKI Jakarta ialah sebesar RP 60.000.000

Anda juga perlu mengetahui NPOP dan NJOP

Dimana NPOP adalah Nilai Perolehan Objek Pajak, yaitu harga properti yang disepakati antara penjual dengan pembeli. Dan juga ada NJOP atau Nilai Jual Objek Pajak, yaitu harga properti yang dilakukan taksiran menurut pemerintah. Apabila diketahui ternyata NPOP lebih besar nilainya daripada NJOP maka dasar perhitungan BPHTB ini nantinya akan menggunakan NPOP.

Rumus dalam perhitungan BPHTB

Untuk menghitung BPHTB yang melekat pada pengajuan kpr anda, ada rumus yang bisa diterapkan. Diantaranya ialah 1% dikalikan dengan (NPOP atau NJOP yang dikurangkan dengan NPOPTKP/ Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak atau NJOPTKP/ Nilai Jual Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak). Nilai 1% ini merupakan revisi dari persentase yang sebelumnya adalah sebesar 5%.

0 komentar:

Posting Komentar